Sebuah tempat menarikan aksara. Blog link

Table of Content

Meski Hanya Sekali

Tanah Haramain sejak dulu menyimpan kisah pada tiap sudutnya. Menyajikan hikmah bagi siapa yang ingin mereguknya. Seperti halnya apa yang saya alami ketika kelindan takdir mempertemukan saya dengan seorang muslimah asal Pakistan di masjid kebanggaan sang Nabi -Masjid Nabawi-.

Intermezo. 

India, Pakistan, Bangladesh atau biasa disingkat IPB merupakan ras kedua terbesar yang lalu lalang di Haramain selain ras asli tanah Arab. 

Di Masjid Nabawi komunitas mereka akan terlihat hampir di setiap sudut masjid. Bahkan di area-area kamar mandi mereka tampak bergerombol dengan bahasa acha-acha, nehi-nehi-nya. Adalah pemandangan biasa menemukan mereka mandi, sikat gigi, keramas, bahkan mencuci pakaian. Kupikir wajar saja, mungkin mereka jamaah yang full i’tikaf tanpa keluar sama sekali dari area Nabawi.

Sempat terbersit pikiranKok mereka jumlahnya banyak sekali ya? Berarti mereka kaya dong?" Selama ini, mendengar tentang muslim India, Pakistan, dan Bangladesh yang terbayang adalah orang-orang di daerah rawan konflik. 

Rupanya, bukan karena melimpahnya harta yang membuat mereka tumpah ruah di Tanah Suci. Namun, ada kisah menarik yang saya temukan dari percakapan singkat dengan sang muslimah asal Tanah Pakistan. 

Berbekal bahasa Inggris seadanya saya mencoba membuka percakapan. Dimulai dari memperkenalkan diri lalu saling melempar tanya. Alhamdulillah ternyata ia adalah seorang gadis SMA yang datang bersama kedua orang tuanya. Mereka berasal dari Pakistan. Kuutarakan kekaguman karena dalam usia belia ia telah menunaikan ibadah umrah.

Ia pun mengungkapkan bahwa, “Sudah menjadi kebiasaan di negeri kami, semua akan berusaha setidaknya satu kali untuk ke tanah suci sebelum meninggal.”

Saya mengangguk dan tersenyum sebagai tanda persetujuan atas apa yang dia katakan. Rasanya wajar dan setiap muslim pasti menghendaki demikian.  

Sampai pada sehari menjelang kepulangan kami ke tanah air, saya menemukan bahwa apa yang gadis itu katakan sedikit melenceng dari apa yang saya pikirkan.

Hari itu, kurang dari 24 jam sebelum berpisah dari Nabawi, saya berkeinginan kuat untuk berjalan satu putaran penuh mengelilingi Masjid Nabawi. Berhasrat mengurung sebanyak-banyaknya memori untuk dikunjungi kembali saat kerinduan mendera. Sebab rasanya kerinduan telah hadir bahkan sebelum kaki beranjak dari Tanah Madinah.


Bukan perkara mudah sebenarnya mengelilingi masjid dengan kapasitas satu juta jemaah di dalam dan 800.000 di pelataran masjid ini. Sebab kini masjid yang merupakan bangunan wakaf dari Rasulullah tersebut luasnya telah mencapai 400.000 m2. Belum lagi hawa panas Madinah dimana jam 8 pagi setara siang bolong di tanah air. Namun, mengingat batasan waktu yang akan segera usai, saya membulatkan tekad untuk berjalan. 

Saat itulah mata saya bertemu sekelompok ibu-ibu yang tengah membentangkan kain di pelataran lantai Masjid Nabawi. Didera rasa penasaran, saya mencoba mendekat dan ternyata mereka sedang menjemur pakaian basah. Padahal saat itu bukan lagi waktu i’tikaf. Ramadan telah seminggu berlalu.


Terbersit tanya, apakah mereka tak punya hotel sehingga harus menjemur pakaian di lantai masjid? Belum juga pertanyaanku menemukan jawab, kulihat beberapa orang menggeret tas-tas berukuran besar. Tampak pula teman-teman mereka berdiri dan membantu merapatkan tas tersebut ke sisi –sisi pagar pembatas. Rupanya di situ ada beberapa orang lain beserta tas-tasnya.

Saya lagi-lagi tertegun, benarkah mereka tinggal di selasar Nabawi? Pantas saja, wajah mereka menjadi yang paling sering hilir mudik di sekitar masjid tapi begitu jarang menemukan atau berpapasan di area hotel.

Rupanya mereka tak lagi ambil pusing soal penginapan ketika hendak ke tanah suci. Bagi mereka selasar Nabawi adalah tempat yang bisa menampung kapan saja. Tak jadi soal kala selasar Nabawi begitu panas di siang hari dan dingin menusuk di malam hari.Memoriku terbang pada kisah para ahlussuffah. Orang asing yang pada zaman Rasul mendiami bagian belakang Masjid Nabawi.

                                     

Tak teras ada yang menghangat di sudut mata. “Pergi meski hanya sekali”, kalimat ini menemukan bentuk barunya dari apa yang terindra. Kalimat tersebut betul-betul tergambar dari kegigihan mereka. Mungkin, mereka hanya bermodal niat ibadah, tiket pesawat, dan uang seadanya. Tak lagi memikirkan soal penginapan dan hal lain. 

Berbeda jauh dengan anggapan “naik haji bagi yang mampu”. Mampu standar kita ketika anak-anak sudah selesai study, ketika rumah telah jadi, ketika kendaraan telah terbeli, dan seperangkat kebutuhan duniawi bahkan telah berlebih. Barulah kita merasa cukup. Walhasil, mayoritas kita baru bisa menapak Tanah Suci ketika umur telah uzur. Tenaga tak lagi fit untuk mengikuti tahap demi tahap rangkaian ibadah. Hanyalah segelintir orang yang benar-benar memorsikan hartanya untuk berangkat ke tanah suci.

Semakin berjalan ke sisi  lain, netra saya menangkap pemandangan yang hampir sama. Bedanya pada bagian laki-laki hanya tas-tas kecil dan kantong yang terselip di sela-sela pagar Nabawi. Di sisi lain, tampak kantung kresek berjejer di bawah pagar-pagar Nabawi dengan orang-orang yang berbaring di sekitarnya.

Sebuah pemandangan yang terlihat aneh bagi orang Indonesia yang biasa tidur di hotel atau setidaknya di dalam masjid yang teduh.

Sungguh, HARAMAIN menyimpan daya tarik yang hanya mampu diindra oleh ketajaman iman. Sebab tak ada tempat di dunia ini dimana manusia berbondong-bondong menuju satu arah. Merelakan pundi-pundi untuk sebuah perjalanan yang bahkan mengulangnya beberapa kali tanpa ada rasa bosan.



 

  





1 komentar

  1. ❤️❤️❤️❤️