MaJbMGB9NqNcMaBbMWJ6NWN5NncsynIkynwbzD1c

Menyibak Sisi Lain Benteng Terluas di Dunia

BLANTERLANDINGv101
7425642317624470382

Menyibak Sisi Lain Benteng Terluas di Dunia

Rabu, 01 Juni 2022


 “Selalu ada hal menarik saat segala sesuatu dilihat berlandaskan ilmu”

            Yups... itulah yang saya rasakan saat mengunjungi benteng terluas di dunia untuk ke sekian kalinya. Jika sebelumnya saat berkunjung sekedar melampiaskan hasrat foto-foto, kali ini terasa lebih spesial sebab dalam rangka menjawab rasa penasaran. Banyak hal baru yang saya ketahui dan menuntut untuk dituntaskan.

            Oh ya, bagi yang berpikir bahwa benteng terluas di dunia ada di luar negeri, segeralah direvisi. Benteng terluas di dunia berada di Indonesia. Tepatnya di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Hal ini sudah diakui secara global melalui keputusan Museum Rekor Indoensia (MURI) dan Guiness Book of World Record pada bulan September 2006.

            Ok, kembali ke rasa penasaran tadi. Rasa penasaran saya bermula saat menemukan ‘perspektif baru’ tentang sejarah melalui buku Beyond The Inspiration karya Felix Y Siauw. Jika dulu belajar sejarah sekedar menghafal nama orang, tempat, tahun, dan tanggal, maka dalam perspektif baru kita diajak memunguti hikmah-hikmah bertebaran dari setiap peristiwa sejarah.

            Saya semakin bersemangat ketika mendapati fakta bahwa Islam pernah menjadi mercusuar peradaban dunia selama berabad-abad. Menjadi perantara peradaban kuno dengan peradaban modern hari ini.

            Fakta tersebut sekaligus jadi pengobat rasa insecure sebagai muslim.  Bagaimana tidak, sejak mulai mengetahui, otak saya sudah disusupi bahwa penemu segala teori dan ilmuwan adalah non muslim dari negeri-negeri Eropa. Jadilah selama sekolah saya kerap bertanya-tanya, kok tidak ada ya ilmuwan muslim? Apa yang bisa dibanggakan dengan menjadi seorang muslim?

            Efeknya saya jadi merasa bahwa selamanya muslim akan selalu tertinggal dan merasa wajar tidak memiliki kiprah apa-apa.

            Mempelajari sejarah ‘perspektif baru’ bukan sekedar sebagai bahan nostalgia kejayaan tapi menjadi cambuk agar saya berkarya dalam peradaban sebab para muslim pendahulu memiliki kiprah-kiprah fantastis pada masanya. Jika saya tak bisa mengulang karena terlambat menyadari, maka ini akan menjadi warisan cita-cita pada generasi selanjutnya.

            Belajar sejarah akan semakin asyik ketika dikemas dengan penyampaian yang enak dan sarat hikmah ala Ustadz Budi Ashari, Ustadz Adian Husaini, Ustadz Tiar Anwar Bachtiar penulis buku Jas Mewah (Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah dan Dakwah), Ustadz Salim A Fillah, Mba Uttiek penulis serial Jelajah 3 Daulah, Mas Edgar Hamas. Rasanya jadi makin ketagihan. Sejarah bukan hanya tentang sebuah peristiwa namun bagaimana setiap persitiwa mampu memberi pesan untuk perbaikan ke depannya.

            Setelah banyak baca tulisan beliau-beliau yang namanya tertera di paragraf atas bahwa masuknya Islam selalu dibarengi budaya literasi, persepsi saya mulai berubah ‘ Di Tanah Buton dan Muna  pasti  ada nasakah lama. Hanya saja tersembunyi entah dimana.’

            Daaaann....eng..ing..eng... Pikiran kedua ternyata benar adanya. Beberapa bulan silam  adik saya mengatakan bahwa ia diminta oleh dosennya untuk meneliti naskah kuno dari daerah sendiri. Tepatnya naskah-naskah peninggalan Kesultanan Buton.

            Woooww... fakta yang benar-benar baru buat saya. Yang lebih mencengangkan naskah tersebut telah didigitalisasi oleh pihak Dreamsea. Dreamsea merupakan program digitalisasi naskah-naskah kuno se Asia Tenggara yang digagas pada Desember 2017 guna mengantisipasi kondisi naskah-naskah kuno se-Asia Tenggara yang minim perhatian. Center for the Study of Manuscript Cultures (CSMS) Universitas Hamburg, Jerman bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Syarif Hidayatullah meluncurkan program bertajuk Dreamsea 24/2/17 siang di Perpustakaan Nasional RI. Program ini didanai lembaga amal Arcadia. Berjalan mulai Juni 2018 hingga 2022.


            Waduh, malu rasanya ketika orang jauh lebih memiliki kepedulian pada warisan sejarah nenek moyang kita. Terlebih setelah ditelusuri ternyata naskah di Buton sangatlah banyak. Terdiri dari naskah tentang bahasa, hikayat, hukum, Islam, sejarah, silsilah, surat-surat, syair, dan terjemahan kitab-kitab para ulama. Sayangnya kondisi naskah-naskah tersebut sangat memprihatinkan sebagaimana yang tergambar dalam potret yang diunggah oleh akun instagram @dreamsea.

            Melihat fakta tersebut, beragam pertanyaan berseliweran. Mengapa semuanya seolah terkubur dan terputus dengan genearsi selanjutnya? Mengapa tak ada yang peduli dengan warisan literasi tersebut?

            Ah, mungkin ini jadi salah satu efek penjajahan yang menganggap bahwa orang Indonesia 97 % buta aksara pada awal kemerdekaan (gln.kemdikbud.go.id). Ternyata semua itu HOAX semata. Mereka mungkin buta huruf latin, tapi dalam berliterasi, mereka justru sangat berkembang.

            Peradaban Buton yang erat kaitannya dengan Islam, tentu mewarisi budaya literasi. Sebab, Islam ketika memasuki suatu peradaban baru, sepaket dengan budaya ilmu dan literasi. Menjunjung tinggi semangat pengembangan pengetahuan.

            Bersebab Islam dibawa dalam bahasa Arab sebagai bahasa internasional saat itu maka yang berkembang saat itu tentulah aksara Arab. Kakek saya sendiri sangat mahir menulis huruf Arab gundul dan sangat suka menulis. Jadi keliru jika dianggap buta aksara. Mereka sangat melek aksara hingga mampu meninggalkan warisan literasi yang sangat berharga.

            Salah satunya berada di rumah bapak Mujazi Mulku Zahari. Salah seorang penyimpan naskah kuno Buton. Keluarga beliau merupakan keturunan sekertaris Kesultanan Buton. Ayah beliau Abdul Mulku Zahari adalah  sekertaris terakhir Kesultanan Buton. Sultan terakhir Sultan Falihi (1937-1960) memberinya kesempatan luas untuk menghimpun naskah di Kesultanan Buton. Naskah yang dijaga Pak Mujazi berbahasa wolio dengan tulisan arab gundul yang dibaca seperti Al-Quran dari kanan ke kiri.

            Bapak Mujazi dulunya membuka Museum Keslutanan Buton namun berhubung beliau sakit-sakitan, museum tersebut di tutup sebab tak ada yang melanjutkan. Harapnnya pemerintah daerah maupun provinsi bisa memberikan perhatian akan hal ini.

            Keinginan melihat naskah-naskah tersebut harus gagal sebab beliau saat itu sedang sakit sehingga tidak dapat mengantarkan kami. Beliau menuturkan kesedihannya sebab anak-anaknya tak ada yang tertarik pada naskah-naskah tersebut. Ada raut kesedihan dari wajah Bapak Mujazi mengingat siapa yang akan menjadi penerusnya menjaga naskah tersebut.

            Ah, dibalik kebanggan kita memiliki benteng terluas di dunia, terdapat asa seorang penjaga naskah yang menanti penerus. Semoga pemerintah segera mengambil langkah dan memberi perhatian pada warisan berharga tersebut.

 

 

 


BLANTERLANDINGv101

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang