Sebuah tempat menarikan aksara. Blog link

Table of Content

Haramain, I am Coming!

“Janganlah memaksakan (berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul (Nabawi), dan Masjid Al Aqsha” (HR Bukhari Muslim). 

 Sobat Waode, sebelum melangkahkan kaki ke tempat-tempat lain di muka bumi ini, ketiga tempat di atas harus jadi prioritas. Bukan berarti kita gak bisa ke mana-mana kalau belum ke sana. Tapi bagaimana ketiga tempat ini dipersiapkan sejak dini. Kalau belum bisa mengunjungi setidaknya niat dan usaha ke sana itu harus ada. 

 Coba deh tanya diri kita, sudah sekeras apa usaha kita mempersiapkannya? Kalau belum, kuy lah mulai dari sekarang. 

 
STOP MIKIR, “Kan naik haji bagi yang mampu. Jadi nantilah kalau rumah sudah ada, mobil sudah ada, anak-anak sudah sukses, karir sudah melejit baru mikir ke tanah suci.” 

 Gak gitu ya teman. Harusnya mikir ke tanah suci itu sejak masih muda. Ibadah haji maupun umroh butuh fisik yang kuat dan sehat. Sekedar informasi, untuk Thawaf saja kita itu kaya lagi ngeliling stadion. Belum ditambah kalau mau mendekat ke Ka’bah yang berdesak-desakan dengan manusia dari seluruh penjuru bumi. Belum rukun-rukun lainnya. 

Pict 1. Suasana Thawaf di Masjidil Haram

Jadi, kalau bisa berangkat sejak muda, Why not? So, Yuk persiapkan sejak dini. 

Berikut beberapa hal yang menurut saya penting banget untuk diketahui. Kalau teman-teman pembaca punya taambahan, silahkan share di kolom komentar. 😊

Langsung saja, yang pertama tuh N I A T. Empat huruf yang sangat menentukan apakah ibadah kita diterima oleh Allah atau tidak. Jangan sampai sudah jauh-jauh ke tanah suci, eh dapatnya cuma foto (auto ngaca). Kan nyesek.... 

 Niat ini kalau diucapkan seakan mudah saja tapi menjaganya untuk semata-mata buat ibadah kepada Allah itu susah banget. Ada riya (niat ingin di lihat dan mendapat pujian) dan sum’ah (niat ingin di dengar dan menjadi perbincangan) yang siap merasuk setiap saat. Untuk menjaga ini, kita benar-benar butuh banyak istighfar dan minta ke Allah untuk tetapkan hati kita.

 Next, yang kedua menurutku adalah D O A. Tiga huruf yang bisa menjadi senjata untuk menggedor-gedor pintu langit. Selain doa secara pribadi, doa dari orang tua itu sangat penitng. Juga jangan sungkan minta doa dari siapapun. 

Tentang ini, teringat kebiasaan K.H. Imam Zarkasyi yang selalu meminta doa orang-orang untuk anaknya. Ketika ada yang memprotes beliau dengan lembut berkata, “Kita tidak tau doa dari lisan siapa yang Allah kabulkan untuk kita.” Masya Allah. 

Ketiga, Memantaskan diri untuk di panggil. Ada satu kalimat yang bagi saya itu keren banget “Allah tidak memanggil yang mampu tapi memampukan yang terpanggil.” 

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memantasakan diri ini. Seperti mendekatkan diri kepada Allah, semakin kita dekat padanya, semakin besar peluang Allah untuk menajdikan kita tamu di tanah sucinya. 

 Selanjutnya ikhtiar sampai batas paling maksimal. Ingat kan hadist di awal tadi, kita harus kerja keras untuk menuju 3 tanah suci. Kalau tips dari Mba Yana Nurliana dalam bukunya Catatan Perjalanan 3 Tanah Suci#MasjidilAqsa, itu dengan membuat paspor meski belum ada hilal kapan akan berangkat. Kata beliau “Jawaban yang saya jawab jika ada yang bertanya apa yang pertama harus disiapkan jika mau umroh adalah paspor. Untuk teknisnya bagaimana, terserah Allah. Punya paspor bagi saya adalah cara untuk meyakinkan diri bahwa saya siap di jemput ke tanah suci.” Keren ya? 😁 

Cerita berbeda dilakoni oleh Mba Nur Febriani Wardi dalam memantaskan diri. Dalam bukunya Haram Keliling Dunia, beliau menuliskan pengalaman naik haji di usia 22 tahun dengan uang sendiri. Mau tahu caranya? Mba Nur waktu itu menguras habis jatah dari penjualan tanahnya. Keren kan? Padahal kalau anak muda biasanya kalau liat uang segitu pasti mikirnya buat beli kendaraan, buat jalan-jalan ke luar negeri, buat investasi, dll. Tapi Mba Nur ini nekat aja, katanya “Ada cara yang ku ketahui secara tidak sengaja, dan ternyata jauh lebih produktif. Suatu cara menghabiskan uang yang tidak akan pernah ku sesali seumur hidup.” Karena berawal dari Haram, satu persatu mimpinya tercapai. 

 Ada juga yang mulai memantasakan diri dengan buat tabungan kecil-kecilan. Berbekal dos bekas dibungkus kertas kado terus dibubuhi tulisan “Tabungan Umroh untuk Ibu” karena waktu itu pengennya mengumrohkan ibu dulu. Tabungan itu di isi sesuai kemampuan, kadang seribu, dua ribu, paling banyak lima puluh ribu. Gak hanya gerak sendiri tapi juga ngajak saudara-saudaranya. Eh, Qadarullah pas ibunya berangkat malah ikut semua. Jadi, kamu mau memantaskan diri dengan cara yang mana? 

 Ayo gerak. Ini saya kasi kutipan yang lupa sumbernya dari mana (kalau ada yang tau tolong infokan). “Jarakmu ke Tanah Suci tidak akan berubah kalau kamu tidak mulai bergerak.” ;)

4 komentar

  1. hmm kaka,smg ya bs kesana palestina next time
    1. Aamiin yaa robbal alamin 🤲🤲
    2. In syaa Allah nanti ke Palestina sama2...😁😁
  2. MaasyaaAllah