MaJbMGB9NqNcMaBbMWJ6NWN5NncsynIkynwbzD1c

Berkas Oh Berkas

BLANTERLANDINGv101
7425642317624470382

Berkas Oh Berkas

Sabtu, 19 September 2020

 

            “Punya paspor (buat saya) adalah cara untuk meyakinkan diri, bahwa saya siap di jemput ke tanah suci.” Ujar Mba Yana Nurliana dalam bukunya Catatan Perjalanan 3 Tanah Suci #Masjidil Aqsa

            Buku ini saya dapatkan tahun 2017, setelah mengikuti give away yang diadakan oleh akun facebook Catatan Perjalanan 3 Tanah Suci. Waktu itu saya minta untuk mengulas beberapa temapt sekaligus minta di doakan. Minta di doakan sama orang-orang yang sudah berangkat itu jadi salah satu agenda wajib bagi saya. Sebab kita tidak pernah tahu, doa dari lisan siapa yang akan terkabul. Ya kan? ( So. Buat para pembaca, titip doa ya biar bisa kembali ke Haramain + Masjidil Aqsa + tempat-tempat bersejarah lainnya).... 😊😊

            Nah, sebeleum kita mengunjungi tempat-tempat tersebut, pastikan sudah melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan. Kalau bisa nekat aja buat paspor dulu. Hitung-hitung buat meyakinkan diri kalau kita siap diperjalankan.

            Di bawah ini, saya ingin berbagi pengalaman seputar liku-liku pengurusan paspor dan buku kuning. Semoga bermanfaat!

1. Paspor

             “Kak, nanti kalau urus paspor bilang saja untuk lanjut kuliah. Kalau bilang untuk umroh nanti diminta berkas-berkas dari travel, butuh waktu lama lagi. Mana kakak sudah mepet waktunya.” Demikian percakapan sekilas dengan seorang teman yang sudah lebih dulu berpengalaman ke tanah suci..

            Berbekal briefing singkat tersebut, esoknya langsung OTW kantor imigrasi. Setelah terlebih dahulu melakukan pendaftaran via online. Ketika ditanya untuk keperluan apa, jawaban lanjut kuliah langsung meluncur.

            “Boleh minta surat rekomendasi atau berkas lain dari kampus tujuannya?” Gubrak... Kata-kata petugas imigrasi sukses bikin senyum-senyum menanggung malu dan mundur teratur. Akhirnya biar tidak pulang kososng, pergi ke CS lain dan mengungkapkan alasan yang sesungguhnya. 

            Oh ya, jawaban lanjut kuliah bukan bohong ya karena memang salah satu tujuan buat paspor adalah untuk itu. 😀

            Dan lagi, jawaban yang diperoleh bikin perasaan jungkir balik karena ada banyak berkas yang harus disiapkan jika ingin umroh. Diantaranya :

1.      KTP

2.      KK

3.      Akta kelahiran

            Ini tiga berkas utama yang harus disiapkan. Pastikan nama yang tertera di ketiga berkas tersebut sama persis. Tidak boleh beda meski satu huruf karena akan di tolak. Pas cek berkas-berkass itu ternyata akta kelahiran berbeda. Rasanya mau nangis kalau harus disuruh buat ulang. Syukurlah akta kelahiran bisa diganti ijazah SD, SMP, atau SMA. Yang penting di ijazah tersebut ada nama ayah. Fyuuhhh.. sedikit lega.

            Cuma itu? Oh, NO... Masih ada berkas lainnya seperti :

·         Surat rekomendasi travel A S L I. Bukan fotocopy ataupun soft file karena harus ada stempel basah. Rasanya mau nagis karena posisi kami di Sulawesi sedangkan travel berada di Jawa. Kurang lebih satu minggu waktu untuk pengiriman berkas sementara waktu pendaftara semakin dekat.

·         SK Izin pendirian travel ASLI .

·         Surat rekomendasi dari Kantor Wilayah Kementrian Agama Kota (disesuaikan dengan tempat membuat KTP) atau surat keterangan domisili jika berada di luar kota >>> Catatan: untuk berkas ini berbeda-beda antara kantor imigrasi yang satu dengan yang lain. Jadi silahkan di cek dulu.

Pengalaman untuk Kabupaten Muna,  pengurusannya boleh diwakilkan. Cukup bawa fotokopi KTP, dan soft file pengantar dari travel dan surat izin.

             Kurang lebih berkas-berkas itulah yang disipakan untuk paspor. Sekedar saran, lebih baik cek dari sekarang nama-nama yang terdapat diberkas. Pastikan ejaan nama sesuai di semua berkas. Jika ada yang berbeda sebaiknya segera diperbaiki. Selain membaawa yang asli, bawa juga beberap lembar fotokopi. Stetelah semuanya lengkap, kita diminta untuk mengisi surat permohonan. Tunggu untuk di foto dan sidik jari. Kurang lebih empat hari paspor sudah bisa diambil dengan membawa bukti pembayaran dari bank.

 Penting : Pilih paspor 48 halaman dengan biaya Rp 355.000. Jangan pilih 24 halaman meski harganya hanya seratus lima puluh ribu karena KTP jenis ini biasanya dipakai oleh TKI yang seringkali mengalami pemeriksaan lebih lanjut di tiap bandara. Paspor 24 halaman tidak diterima di negara-negara Eropa, Australia, dan Amerika.

 2. Buku Vaksin Meningitis

            Buku berwarna kuning ini menjadi salah satu berkas penting yang harus di bawa. Jangan coba-coba berangkat tanpa buku ini karena bisa jadi anda ditolak di masuk negara Saudi. Berkas yang harus disipakan untuk pengurusannya antara lain :

1.      Fotokopi paspor

2.      Fotokopi KTP

3.      Surat rekomendasi dari Departemen Agama setempat

4.      Balasan email. Di dapatkan setelah melakukan pendaftaran online. Jika belum ada, silahkan tetap datang ke KKP yang penting sudah ada balasan “Terimakasih” setelah daftar.

5.      Masukkan berkas dan tunggu panggilan untuk di vaksin.

             Beberapa catatan penting :

·         Vaksin meningitis dilakukan minimal 14 hari sebelum keberangkatan

·         Dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan

·         Sebaiknya pergi waktu pagi

·         Pembayaran hanya bisa dilakukan via ATM atau teller bank. Tidak menerima pembayaran tunai.

 

           

BLANTERLANDINGv101

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang