MaJbMGB9NqNcMaBbMWJ6NWN5NncsynIkynwbzD1c

Corona dan Ibnu Batutah

BLANTERLANDINGv101
7425642317624470382

Corona dan Ibnu Batutah

Senin, 30 Maret 2020

Keduanya bisa dikatakan sama-sama penjelajah dunia dengan jarak tempuh 11 12. Perjalanan Ibnu Batutah menjadi sumber informasi tentang berbagai negeri dan keadaannya pada masa itu. Dan Corona kelak akan menjadi referensi tentang bagaimana berbagai negara mencoba hadir untuk rakyatnya dalam wabah ini. Ada yang berani pasang badan mengorbankan segalanya demi rakyat, ada juga yang sedang berpikir keras, mau dibawa kemana negaranya.

Back to Ibnu Batutah

Melalui potretan Ibnu Batutah dalam kitabnya yang terkenal “Rihlah Ibnu Batutah”, kita bisa melihat bahwa dunia Islam itu terbagi dua : dunia politik dan dunia sosial.

Saat itu, dunia politik secara umum sedang tumbuh-tumbuhnya. Namun dalam dunia politik pasca Khulafaur Rasyidin, memang sejarahnya kurang mengenakkan karena selalu diwarnai perebutan kekuasaan sehingga seringkali politiknya morat marit. Meski  tak bisa dipungkiri ada banyak potret pemerintahan ideal juga.

TAPI... ada 1 hal MENARIK dalam catatan Ibnu Batutah yaitu catatan tentang dunia sosial kemasyarakatannya. 

Bahwa ketika dia berangkat dari ujung Afrika yaitu Tangier (kota kelahirannya) di Maroko sampai Sumatera hingga Beijing, terus hingga mencapai laut Kaspia. Ia hanya membawa beberapa keping uang emas saja. Dan itu cukup untuk membiayai perjalanannya sampai berpuluh tahun.

Apa rahasianya???
Islam selalu punya konsep istimewa. Bagaimana kita diajarkan menjamu tamu selama 3 hari dan konsep hak seorang ibnu sabil. Masyarakat yang sehat selalu berusaha mengambil peran-peran terbaiknya. Ada yang menjamu secara pribadi, ada pula jamuan yang diberikan oleh komunitas-komunitas. Bahkan orang-orang kaya mencari Ibnu Sabil yang akan dibiayai.

Kesimpulannya, se morat-maarit apapun kondisi pemerintahan negeri-negeri yang dilalui, ketika kondisi sosialnya masih baik, masyarakat selalu bisa diandalkan. Sehingga ketika Ibnu Batutah sampai di suatu negeri, ia tidak pernah takut kelaparran dan tak punya tempat tinggal. 

Relevansinya dimasa kini, untuk menghadapi Corona ini, mari kita perkuat dimensi soisal, terlebih jika dimensi politik a.k.a pemerintahan kurang bisa diharapkan. Kita punya dimensi sosial yang mengagumkan. Yang diwariskan oleh Rasulullah dimana setiap orang berusaha memberikan peran-peran terbaiknya. Ini warisan yang mahal sekali.


PS : 
*Disarikan dari ceramah Ust. Asep Sobari dengan judul Ibnu Batutah
*Bagi yang tidak bisa bergerak sendiri, bantuan bisa disalurkan melalu ACT, Dompet Dhuafa, dan lembaga-lembaga lainnya.

BLANTERLANDINGv101

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang